Libur Lebaran telah usai, dan suasana di Kampung Pelangi kembali berdenyut. Namun, ada yang berbeda di halaman sekolah kali ini. Tidak ada bola plastik atau petak umpet. Sebagai gantinya, Bimo, Zahra, dan Dede tampak serius menghadapi tumpukan kabel dan kerangka karbon di atas meja taman.
Hari itu, mereka menghadapi tantangan besar, kucing kesayangan Bu RT, si Gembul, terjebak di dahan pohon beringin tua yang sangat tinggi di belakang sekolah. Pohon itu terlalu rapuh untuk dipanjat, dan tangga pemadam kebakaran tidak bisa masuk karena gang yang sempit.
Si Gembul dikenal sebagai kucing yang aktif. Ia suka mengejar ayam yang sedang mencari makan. Namun pada hari itu si Gembul sangat asyik mengejar burung hingga naik ke pohon beringin tua itu. Sayangnya ia terjebak diantara ranting yang rapat.
Ia mengeong ketakutan. Tingkah lakunya tampak khawatir. Ingin melompat tetapi ketakutan. Jadilah ia hanya berputar-putar, kepalanya menatap ke tanah dengan khawatir, dan ekornya dikibas-kibaskan.
Bu RT tampak bersedih dan mengkhawatirkan si Gembul nekat melompat, hingga pak RT menghubungi pemadam kebakaran.
"Oke, dengerin rencana kita," Bimo memulai instruksi ala pemimpin Pramuka.
"Kita nggak bisa memanjat, tapi kita punya Drone Micro yang baru kita rakit kemarin!"
"Tapi Bimo, drone itu nggak bisa ngangkat kucing seberat Gembul!" sahut Zahra cemas.
"Betul," jawab Bimo sambil tersenyum tenang. "Drone ini fungsinya buat pengalihan isu. Dede, kamu kendalikan drone-nya lewat kacamata FPV. Terbang tepat di depan hidung Gembul supaya dia tidak stres dan tak melompat ke arah yang salah."
Dede mulai memakai kacamata FPV-nya. Di layar, dia bisa melihat kumis Gembul yang gemetar ketakutan.
"Kevin, Felix, Santi, Maria, kalian bentangkan jaring pengaman di bawah! Jangan sampai meleset!" perintah Bimo.
Namun, Gembul justru makin terpojok dan mengeong histeris. Di sinilah tantangan paling sulit muncul, yakni bagaimana menenangkan kucing yang sedang panik di ketinggian 7 meter?
Tiba-tiba, terdengar gesekan dawai yang sangat lembut dan dalam dari arah teras kantor guru. Ternyata, Om Aziz sudah berdiri di sana dengan biola Scott Guan barunya. Beliau mulai memainkan melodi Lullaby yang sangat tenang.
Suara biola itu mengalun jernih, merambat di antara dedaunan beringin. Ajaibnya, si Gembul yang tadinya tegang mulai terlihat rileks. Ekornya berhenti mengibas liar. Melodi itu seolah menghipnotisnya untuk tetap diam di tempat.
Detik-detik Penyelamatan
"Sekarang!" bisik Bimo.
Santi melemparkan umpan ikan tuna yang diikatkan pada tali pancing kecil yang dibawa oleh drone Kevin. Drone mikro itu terbang dengan presisi luar biasa, menjatuhkan makanan tepat di dahan yang kuat, memancing Gembul untuk turun ke dahan yang lebih rendah dan aman untuk dijangkau galah bambu panjang milik Made.
HUP!
Dengan satu gerakan cepat, Made berhasil menjaring Gembul dan menurunkannya perlahan.
Akhir yang Manis
Seluruh tim "Sahabat Pelangi" bersorak. Bu RT datang dengan mata berkaca-kaca, membawa sepiring gorengan hangat sebagai ucapan terima kasih.

"Hebat kalian semua," puji Om Aziz sambil menyeka biolanya. "Seni dan teknologi kalau digabung ternyata bisa menyelamatkan nyawa, ya?"
Bimo nyengir lebar. "Dan kerja sama, Om! Kalau nggak ada musik biola Om Aziz, mungkin Gembul sudah lompat duluan karena kaget sama suara baling-baling drone."
Sore itu, di bawah pohon beringin tua, mereka menyadari bahwa tantangan tersulit sekalipun bisa dipecahkan kalau mereka saling melengkapi—seperti pelangi yang indah karena warnanya berbeda-beda.[]