Cerita Serial "Tiga Sahabat Pelangi
Episode 3 (Ramadhan)
Udara dini hari di Komplek Perumahan Pelangi terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang. Jarum jam baru menunjukkan pukul 02.30 pagi, namun Dede sudah berdiri tegak di depan gerbang rumah Bimo. Sambil menggigil sedikit, ia memegang galon air kosong yang sudah dipasangi tali rafia agar bisa dikalungkan di lehernya.
"Bimo! Bangun, Bim! Sahur... sahur!" bisik Dede setengah berteriak agar tidak mengagetkan satu kampung sendirian.
Tak lama, Bimo keluar dengan langkah pelan. Ia sudah rapi memakai jaket tebal dan kacamata yang sedikit berembun. Di tangannya, ia memegang kentongan bambu warisan kakeknya yang suaranya sangat khas—thok, thok, thok.
"Sabar, De. Kita tunggu yang lain dulu," kata Bimo dengan bijak.
Satu per satu, lima teman laki-laki lainnya datang bergabung. Ada yang membawa rebana tua, ada yang membawa botol kaca kosong, hingga kaleng biskuit bekas. Mereka berkumpul di bawah lampu jalan yang temaram.
“Tungguuuu….!”, rombongan terkejut mendengar suara itu saat sampai di depan pos ronda.
Tampak tiga anak laki-laki berlari ke arah mereka. Ketiganya berjaket tebal dan memakai penutup kepala. Dede dan teman-temannya kaget melihat ketiga anak tersebut. Mereka adalah Kevin, Felix, dan Made. Mereka bukan dari sekolah yang sama namun teman bermain di lingkungan rumah.
“Lho, kalian mau ikut juga. E…kamu gak apa-apa? Emm…maksudku orang tua kalian mengizinkan?”, tanya Bimo. Bimo menanyakan hal itu karena mereka non muslim.
“Duh…maaf kami gak bilang kalian sebelumnya. Kami ingin kasih kejutan buat kalian. Kemarin kami nguping pembicaraan kalian, hehe… Gak apa-apa, papa-mama kami mengizinkan. Justru mereka yang membangunkan kami,” ujar Kevin dengan napas terengah-engah. Felix dan Madepun mengangguk.
“Boleh kan kami bergabung?”, tanya Felix
“Waah…kami senang sekali,” ujar Dede sambil tersenyum lebar.
“Terima kasih kawan”, jawab Made.
"Atas nama teman-teman, saya mengucapkan terima kasih kalian sudah bergabung, Kevin, Felix, dan Made”, ujar Dede.
“Oke, semuanya dengarkan instruksi," Bimo mulai memimpin layaknya komandan upacara.
"Kita jalan dari blok A sampai blok D. Ingat, suaranya jangan asal berisik. Harus ada iramanya supaya orang bangun dengan senang, bukan kaget. Dede, kamu jaga tempo galonmu ya!"
"Siap, Bos!" sahut Dede semangat.

Warga komplek menyambut "All Boys"
Rombongan "All Boys" itu pun mulai melangkah.
Thok, thok, thok... tung, tung, drak!
Suara kentongan Bimo yang stabil bertemu dengan dentuman galon Dede yang bertenaga, ditambah riuhnya alat-alat musik sederhana dari teman-teman lainnya.
"Sahur... sahur... bapak-bapak, ibu-ibu, ayo sahur...!" seru mereka kompak.
Di sepanjang jalan, mereka melihat lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Beberapa warga membuka jendela dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Pak RT bahkan sempat keluar sebentar untuk memberikan sekantong plastik berisi permen jahe agar tenggorokan anak-anak itu tetap hangat.
Bimo merasa bangga. Meskipun matanya masih sedikit mengantuk, ia senang karena tugas sederhana ini membantu tetangga mereka tidak kesiangan. Dede apalagi, dia sudah asyik melakukan improvisasi ketukan galon yang membuat teman-temannya tertawa pelan.
Setelah setengah jam berkeliling komplek mereka sampai kembali di pos ronda.
“Subhanallah,siapa yang menyiapkan ini?”, teriak Bimo.
Kembali rombongan terkejut saat sampai di pos ronda. Wajah mereka berbinar karena sudah tersedia beberapa gelas, dua teko teh manis hangat dan dua piring pisang goreng di atas hamparan tikar.
“Selamat menikmati teman-teman…”, terdengar suara dari samping pos ronda. Tiga dara cilikpun muncul. Meilin, Maria, dan Santi bersama mama mereka.
“Tentu kalian haus setelah berkeliling komplek”, ujar mama Meilin.
“Wah…wah….jadi enak nih. Terima kasih tante, Meilin, Maria, dan Santi”, kata Dede mewakili teman-teman.
Merekapun menikmati kudapan yang disediakan. Berbagai cerita lucu mengalir diselingi tawa riang.
“Ehh…rupanya ada di sini anak-anak…”, serentak mereka menoleh sumber suara yang tak lain orangtua “All Boys”.
“Lho ada Mama Meilin, Maria, dan Santi…”, tak kalah kaget para orang tua “All Boys” melihat ketiga tetangga mereka.
Bimopun menceritakan asal-muasal hidangan itu.
“Masya Allah, terima kasih banyak Mama Meilin, Mama Maria, dan Mama Santi”, ucap Mama Bimo.
Merekapun kembali ke rumah masing-masing untuk melanjutkan sahur. Meilin, Maria, dan Santi tertawa gembira dapat memberikan kejutan untuk para sahabatnya.[]