Serial Khutbah Jum’at
Oleh: Ustadz Sultan Haji Nasution, S.Q., S.Ag.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kehidupan dunia bukan tujuan akhir, tetapi sebagai tempat singgah sementara untuk menanam (mazra’ah), sebagai tempat atau ladang untuk menanam, sedangkan waktu memanennya yakni ketika di akhirat nanti. Jika hidup di dunia sebagai mazra’ah tentu tak akan lepas dari yang namanya ujian dan cobaan, sebagai sarana untuk menentukan mana yang buruk, baik dan yang terbaik. Al-Quran sebagai pedoman, petunjuk dan rahmat bagi manusia tentu tak lepas membahas kehidupan manusia secara detail termasuk di dalamnya ujian.
Ujian dalam bahasa Arab ada 4 yakni balaa-yabluu, imtahana, fitnah dan ikhtibar. Tapi al-Quran hanya menggunakan 3 kalimat yakni bala-yabluu, imtahana dan fitnah.
Ujian itu dua macam yakni berbentuk nikmat dan musibah.
وَقَطَّعْنٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اُمَمًاۚ مِنْهُمُ الصّٰلِحُوْنَ وَمِنْهُمْ دُوْنَ ذٰلِكَ ۖوَبَلَوْنٰهُمْ بِالْحَسَنٰتِ وَالسَّيِّاٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
"Kami membagi mereka di bumi ini menjadi beberapa golongan. Di antaranya ada orang-orang yang shaleh dan ada (pula) yang tidak. Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali (pada kebenaran)." (Al A'raf: 168).
Pada ayat yang lain Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan." (QS. Anbiya: 35).
Ujian berbentuk kebaikan
1. Harta dan anak
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَه اَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)
Melalui ayat ini Allah memperingatkan manusia agar manusia mengetahui bahwa harta dan anak itu merupakan ujian. Ujian bagi manusia apakah dengan anugerah ini manusia semakin bertakwa dan semakin dekat kepada Allah atau justru sebaliknya. Lalu kenapa harta dan anak yang Allah jadikan sebagai ujian bagi manusia? Karena harta dan anak merupakan kebanggaan dalam kehidupan manusia.
Jika Allah memberikan harta kepada seseorang kemudian dia membelanjakan harta tersebut dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan maka orang tersebut telah mensyukuri nikmat Allah. Namun jika dia semakin tamak, menambah kekayaannya dengan cara yang tidak benar (tidak halal), enggan mengeluarkan hartanya di jalan Allah maka sesungguhnya dia telah mengingkari nikmat Allah.
Sedangkan anak yang Allah titipkan kepada manusia merupakan kesenangan dan penghibur bagi manusia di dunia. jika manusia mendidik anaknya sesuai dengan tuntunan Islam, kemudian anak itu menjadi anak yang sholeh/sholehah, maka anak itu akan menjadi tabungan pahala yang tak ternilai harganya bagi ayah dan bundanya di akhirat kelak. Rasulullah berpesan bahwa semua amal manusia akan terputus kecuali tiga perkara yang salah satunya ialah anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya. Tetapi jika orang tua gagal mendidik anaknya dengan baik atau bahkan si anak ditelantarkan dan tidak dididik maka orang tuanya telah berbuat dzalim kepada anak, bukan hanya itu anak juga akan menjadi bencana bagi kedua orang tuanya dan masyarakat. Maka dari itu hendaklah seseorang memelihara diri mereka dari kedua ujian ini. sehingga tidak melalaikan diri dari mengingat Allah dan keduanya merupakan titipan Allah.
2. Ilmu
Ilmu juga merupakan ujian bagi manusia. karena seringkali seseorang menjadi sombong. Sombong adalah penyakit yang menimpa seseorang yang memiliki ilmu. sebagaimana ayat dibawah ini:

“Apabila ditimpa bencana manusia menyeru Kami. Kamudian apabila Kami memberikan nikmat sebagai anugerah Kami kepadanya, dia berkata, 'Sesungguhnya aku diberikan (nikmat) itu hanyalah karena kepintaranku'. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya." (Az Zumar: 49).
Ayat ini menjelaskan tentang keadaan orang-orang musyrik dimana ketika mereka ditimpa musibah atau kemudharatan seperti kefakiran dan penyakit, mereka akan langsung mengingat Allah dan memohon kepada Allah agar diberikan nikmat. Tetapi setelah Allah menjawab do’a mereka dan merubah nasib mereka seperti sembuh dari penyakit, diberikan kelapangan rezeki mereka akan lupa terhadap keadaan mereka sebelumnya dan mengatakan bahwa penyakit mereka sembuh karena kepandaian mereka, ketika rezeki mereka dilapangkan mereka mengatakan bahwa itu hasil kecerdasan dan usaha mereka. tetapi mereka tidak mengetahui bahwa kebaikan dan kemudharatan yang diberikan oleh Allah merupakan ujian untuk menentukan siapa diantara mereka yang bersyukur dan kufur terhadap nikmat Allah.
Diceritakan bahwa Qarun ditenggelamkan oleh Allah karena kesombongannya, setelah Allah memberikan kepadanya kekayaan yang melimpah. Bahkan karena begitu kayanya Qarun kunci brankasnya harus dipikul oleh orang-orang yang kuat pada masa itu. Ketika Qarun diingatkan oleh kaumnya. Qarun tidak mengindahkan perkataan kaumnya dengan mengatakan “sesungguhnya aku diberi (harta) semata-mata karena ilmu yang ada padaku”.
Bukan hanya Qarun, tetapi juga Iblis. Iblis merupakan makhluk Allah yang cerdas, tetapi karena kesombongannya, Allah melaknatnya dan mengeluarkannya dari surga. Kisah ini terjadi ketika dialog antara Allah, malaikat, Adam dan Iblis.
3. Istri atau wanita
Istri merupakan pasangan hidup hingga akhir hayat. Karena istri merupakan pasangan hingga akhir hayat, maka bisa jadi istri sebagai ujian bagi seorang suami. Bahkan di dalam Al-Qur'an Allah menyebutkan wanita sebagai ujian pertama bagi seorang. Lalu yang kedua yaitu anak dan yang ketiga adalah harta. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besarnya ujian seorang wanita bagi seorang laki-laki,ebagaimana hadits Rasulullah :
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)
Mari kita lihat disekitar kita, bahwa berapa banyak laki-laki yang tunduk terhadap wanitanya. Apapun akan dilakukannya terhadap wanita yang dicintainya. Bahkan orang yang cerdas pun bisa gila karena wanita. Orang kaya bisa jatuh miskin karena wanita. Orang kuat akan menjadi lemah dihadapan wanita. Begitu kejamnya lah ujian dan cobaan dari wanita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.719) Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (At-Taghābun:14)
Ibnu Qayyim dalam tafsirnya mengatakan yang dimaksud musuh disini bukanlah musuh yang didasari kebencian. Tetapi musuh disini adalah musuh yang didasari oleh kasih sayang sehingga mencegah seorang suami untuk berhijrah, berjihad dijalan Allah, bersedekah, menuntut ilmu dan hal lain yang berhubungan dengan agama dan amal kebaikan. Berapa banyak laki-laki atau suami yang gagal mendapatkan kesempurnaannya karena seorang istri dan anak. Begitu juga sebaliknya. Dalam sebuah hadist juga dikatakan bahwa fitnah yang pertama kali melanda kaum bani Israil adalah wanita.
Tujuan Adanya Ujian
Segala sesuatu yang Allah ciptakan di dunia ini pasti memiliki tujuan. Allah menciptakan siang untuk mencari kehidupan bekerja, malam untuk istirahat, rumah untuk berteduh, akal untuk berfikir, telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat. Begitu juga dengan ujian, Allah menciptakan ujian yaitu untuk menentukan amal perbuatan dan hati seseorang. Allah ingin memisahkan dan membedakan mana yang orang yang benar-benar beramal karena Allah semata dan mana orang yang munafik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang lebih baik perbuatannya”. (Al-Kahf:7)
Pada ayat ini Allah menguji manusia dengan segala sesuatu yang ada dunia. Allah menjadikan dunia sebagai perhiasan yang menyilaukan mata manusia. Jika orang tersebut benar-benar beriman kepada Allah maka dia akan bersyukur terhadap perhiasan yang diberikan Allah kepadanya. Tetapi jika sebaliknya, orang tersebut munafik maka dia akan menyombongkan diri atas pemberian Allah tersebut. Sebagaimana cerita Qarun yang diberikan harta yang berlimpah, sebelumnya dia adalah orang yang miskin dan taat. Tetapi ketika Allah memberikannya ilmu pengetahuan dan menjadikannya orang yang sangat kaya raya, dia mengatakan bahwa harta yang dia dapatkan karena hasil dari ilmu yang dia miliki.
Kemudian di dalam QS. Al Mulk ayat 2:
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
“Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Mulk: 2)
Kemudian tujuan akhir dari ujian adalah untuk melihat siapa yang paling baik amal perbuatannya. Dengan adanya ujian maka Allah akan meninggikan derajat seseorang dan menghinakannya. Semakin kuat iman seseorang maka semakin semakin banyak ia melakukan amal sholeh. Dan semakin tunduk serta taat ia kepada hukum dan peraturan Allah. Jika sebaliknya, semakin rapuh imannya, semakin sedikit amal sholehnya, maka ia akan dihinakan di akhirat kelak.
Kehidupan duniawi adalah untuk menguji manusia, siapa yang selalu menggunakan akal dan pikirannya untuk memahami agama Allah dan memilih perbuatan yang harus serta paling baik dikerjakan sehingga mendapatkan ridho dari Allah. Selain itu juga untuk mengetahui siapa yang paling tabah dan tahan terhadap larangan Allah dan mengurung dirinya untuk tidak melakukannya. Maka dari itu waspadalah terhadap hidup ini, teruslah memeriksa hati, jika hati sudah benar-benar beriman, maka jagalah dan selalu istiqomah. Wallahu A’lam.[]