Cerita Serial "Tiga Sahabat Pelangi"
Episode 2
Kringgg! Bel istirahat berbunyi nyaring.
Dalam sekejap, lapangan SD Siswa Utama sudah ramai. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Bimo, Zahra, dan Dede segera bergabung dengan teman-teman kelas lain untuk bermain kasti.
Dede, si lincah dari Sunda, sudah tidak sabar. Ia meloncat-loncat kecil sambil memegang tongkat pemukul.
"Hari ini tim kita harus menang! Aku sudah sarapan banyak biar tenagaku kuat!", serunya bersemangat.
Bimo, yang bertugas menjaga di pos satu, membetulkan letak kacamatanya.
"Yang penting mainnya sportif ya, De. Jangan curang," Bimo mengingatkan dengan tenang.
Pertandingan dimulai dengan seru. Sorak-sorai terdengar riuh. Tiba giliran Dede memukul.
Pletak!
Bola kasti terpukul jauh melambung ke udara.
"Lari, Deeee…! Lari...!", teriak teman satu timnya.
Dede berlari kencang bak kilat. Kakinya yang gesit berhasil melewati pos satu, lalu pos dua.
Saat Dede berlari menuju pos tiga, bola sudah ditangkap oleh tim penjaga. Andi, seorang pemain dari tim lawan, bersiap melempar bola ke arah tubuh Dede untuk mematikannya.

Dede berusaha menghindari bola
Wusss!
Bola meluncur deras. Dede meliuk menghindari bola dengan gaya yang lucu.
"Aman! Tidak kena!" ,teriak Dede girang sambil menginjak pos tiga dengan napas terengah-engah.
"Kena kok! Tadi bolanya kena sedikit di ujung bajumu yang melambai!", protes Andi, si pelempar bola, dengan wajah kesal.
"Ah, tidak! Aku kan menghindar tadi. Itu namanya 'hindaran ajaib' ala Dede, hehe…", elak Dede sambil nyengir. Ia sangat ingin timnya mendapatkan poin dan menang.
Permainan jadi terhenti. Tim Dede bersorak mendukung Dede dan meyakini bola aman, sementara tim lawan bersikeras bahwa bola mengenai Dede. Suasana di lapangan menjadi panas dan riuh.
*
Bimo yang berada di pos satu tampak bingung. Ia tidak melihat jelas kejadiannya karena posisinya agak jauh.
Zahra, yang sedang menunggu giliran memukul di pinggir lapangan, maju mendekat. Seperti biasa, Zahra adalah pengamat yang jeli.
"Teman-teman, tunggu sebentar. Jangan bertengkar," kata Lani dengan suara tegas namun tenang. Semua mata tertuju pada Lani.
"Aku tadi melihat dari pinggir lapangan. Dede memang hebat menghindarinya, tapi..." Lani menatap Dede, "...di detik terakhir, bola itu memang sedikit menyerempet ujung kaos Dede."
*
Dede terdiam. Ia menatap Zahra, lalu menunduk melihat ujung kaosnya. Ia tahu Zahra tidak pernah berbohong. Wajah Dede jadi sedikit merah karena malu. Keinginannya untuk menang membuatnya tidak jujur tadi.
Bimo mendekat.
"Bagaimana, De? Apakah yang dikatakan Zahra benar?", tanyanya pelan.
Dede menarik napas panjang. Ia menatap Andi.
"Oke... Zahra benar. Maaf ya, Andi. Maaf Bimo. Maaf juga teman-teman. Tadi aku terlalu semangat ingin menang sampai tidak mau mengaku. Aku kena bola."
Andi tersenyum lega. Kekesalannya hilang.
"Tidak apa-apa, De. Yang penting kamu sudah jujur sekarang."
"Berarti Dede 'mati' ya! Ganti pemain!", seru wasit.
Meskipun Dede harus keluar lapangan dan gagal mencetak poin, hatinya terasa jauh lebih lega.
Bimo menepuk pundak Dede saat ia berjalan ke pinggir.
"Keren, De. Mengakui kesalahan itu butuh keberanian yang hebat, lho. Itu baru namanya juara sejati."
Zahra mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum bangga pada sahabatnya itu.
Permainan kasti pun dilanjutkan dengan lebih seru dan penuh tawa. Hari itu mereka belajar, kemenangan dalam permainan memang menyenangkan, tapi kejujuran dan persahabatan jauh lebih berharga daripada sekadar skor angka.[]