×
Mural Tiga Budaya

Cerita Serial "Tiga Sahabat Pelangi"


Episode 3


Pagi itu, suasana kelas 4B SD Siswa Utama sangat sibuk. Ms Ratna memberikan tugas besar, yakni menghias dinding bagian belakang kelas dengan mural (lukisan dinding) bertema "Indahnya Keberagaman".


Bimo, Zahra, dan Dede kembali dalam satu kelompok. Mereka sudah menyiapkan cat, kuas, dan palet. Namun, saat mulai menggambar sketsa, perdebatan dimulai.

Mereka berasal dari daerah yang berbeda dan masing-masing ingin menampilkan batik khas daerahnya. Masing-masing memberikan alasan yang kuat untuk pendapatnya.

"Teman-teman, lihat sketsaku!", seru Dede penuh semangat.

Ia menggambar garis-garis lengkung yang dinamis.

"Bagaimana kalau kita lukis motif Mega Mendung dari Cirebon? Warnanya biru cerah, pasti kelas kita jadi terasa sejuk!"  Dede mempromosikan batik khas Sunda.

"Idemu bagus, De. Tapi menurutku, akan lebih rapi kalau kita pakai motif Batik Parang. Garisnya diagonal dan tegas, melambangkan semangat yang tidak pernah putus. Itu lebih cocok untuk suasana belajar."


Sementara itu Zahra tampak terpaku sejak tadi memperhatikan dinding yang kosong. Mendengar dua sahabatnya mengemukakan pendapatnya, ia memberikan pendapatnya dengan lembut.

"Aku punya ide lain. Bagaimana kalau kita tambahkan motif Pinto Aceh di bagian tengah? Bentuknya seperti pintu yang indah, melambangkan keterbukaan dan keramahtamahan. Itu kan sesuai dengan tema kita, 'Indahnya Kebersamaan'."


Suasana mulai memanas dengan ‘perang’ ide dan gagasan. Mereka memiliki hobi yang sama, yaitu membaca, baik buku maupun literatur lainnya. Maka tidak heran kalau pendapat dan wawasan mereka kuat dan luas.


Dede bersikeras ingin motif yang ramai, Bimo ingin yang teratur, dan Zahra ingin yang memiliki makna mendalam. Mereka bertiga berdiri di depan dinding kosong dengan tangan bersedekap. Bimo termenung seperti menghitung ubin lantai, tangan Dede masih memegang kuas yang catnya masih basah. Sementara Zahra masih menatap dinding kosong dengan tangan memegang secarik kertas gambar motif Pinto Aceh.

"Kalau semuanya digambar, dindingnya jadi penuh dan berantakan, dong?", celetuk Dede agak cemas.

Ia mengkhawatirkan waktu akan habis hanya mendiskusikan tema. Lalu kapan mengerjakannya sementara waktu terus berputar.


Sementara itu murid-murid yang lainpun mulai bermusyawarah bersama kelompoknya. Kelaspun menjadi gaduh. Karena merasa tidak fokus mereka memutuskan untuk keluar kelas sebentar. Setelah diizinkan Ms. Ratna seperti biasa mereka duduk melingkar di bawah pohon Ketapang Kencana yang rindang di halaman sekolah.

"Yuk, kita musyawarah lagi," ajak Bimo. "Zahra, kenapa menurutmu Pinto Aceh itu penting?"

"Karena kita ingin siapa pun yang masuk ke kelas kita merasa disambut dengan hangat," jawab Zahra tulus.

Zahra melanjutkan. Motif ini terinspirasi dari monumen Pinto Khob, sebuah pintu gerbang peninggalan Sultan Iskandar Muda yang dulu digunakan sebagai pintu masuk menuju taman istana.

“Bentuk ini melambangkan keramahtamahan dan keterbukaan masyarakat Aceh kepada tamu, namun tetap memiliki batasan untuk menjaga kehormatan,” Zahra menjelaskan filosofi motif Pinto.

Adapun makna spiritualnya, bentuknya yang mengecil di bagian atas melambangkan kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta.

“Melalui motif Pinto Aceh ini memberikan simbol bahwa kelas kita terbuka bagi siapa saja yang ingin bersahabat,” demikian pungkas Zahra.


Kedua sahabatnya tampak mengangguk-angguk.

“Wah, tambahan ilmu nih bagiku,” ujar Dede.

“Nah, kalau Mega Mendung Motif berbentuk awan yang berlatar belakang sejarah akulturasi budaya Tiongkok dan Jawa (Cirebon) ini dipopulerkan oleh Sunan Gunung Jati, kawan,” Dede menyambung pembicaraannya.

Secara filosofis melambangkan kesabaran dan ketenangan. Kata "Mendung" di sini bukan berarti sedih, melainkan suasana langit yang sejuk dan memberi kehidupan (hujan).

Motif ini memiliki makna kepemimpinan, bahwa seorang pemimpin harus memiliki jiwa yang "adem" atau tenang, mampu mengayomi rakyatnya seperti awan yang menaungi bumi.

“Jadi dengan menampilkan motif Mega Mendung ini diharapkan agar suasana belajar di kelas kita selalu sejuk dan tidak emosional,” demikian kata Dede.


“Luar biasa kawan kita ini,” ujar Zahra.

“Selanjutnya mari ikuti penjelasan Bimo tentang motif Parang. Your turn, please,” ujar Zahra menirukan gaya MC ternama sambil menangkupkan kedua tangannya seraya menunjuk ke Bimo.

Bimo mengangguk.

“Terima kasih MC Zahra,” sambut Bimo sambil tersenyum.

Ini adalah salah satu motif tertua di Indonesia. Bentuknya yang diagonal menyerupai huruf "S" yang terjalin tanpa putus. Lanjut Bimo.

Secara filosofi berasal dari kata Pereng (lereng) atau deburan ombak laut selatan yang menghantam karang tanpa henti. Ini melambangkan semangat yang tidak pernah padam dan kontinuitas dalam berjuang.

Motif ini memiliki makna karakter melambangkan jalinan kekeluargaan yang erat dan nasihat agar manusia tidak pernah menyerah dalam memperbaiki diri.

“Dengan motif ini sebagai bingkai, diharapkan kelas kita menjadi kelas yang disiplin dan tangguh,” ujar Bimo menutup penjelasannya.


Kedua sahabatnya tampak puas dengan penjelasan Bimo.

“Tepuk tangan untuk kita bertiga,” ujar Dede.

Prok…prok…prok…

 

“Naah…aku ide,” ujar Zahra. Kemudian melanjutkan.

"Bagaimana kalau motif Batik Parang dijadikan bingkai di pinggir dinding. Lalu motif Mega Mendung kita lukis di bagian atas sebagai awan-awan yang cantik. Dan di tengah-tengahnya, sebagai pusat perhatian, kita lukis Pinto Aceh!", ujarnya diakhiri dengan menjentikkan jari tengah dan jempol. Plek!


Hasil yang Tak Terduga

Dede langsung melompat girang.

"Wah! Itu gabungan yang jenius! Jadi ada awannya, ada bingkainya, dan ada pintunya. Benar-benar 'Indahnya Kebersamaan'!"

Mereka pun kembali ke kelas dengan semangat baru. Sambil bercanda dan sesekali Dede mengeluarkan banyolan Sunda-nya yang lucu, mereka mulai melukis. Bimo yang teliti menggambar garis pinggir, Zahra mewarnai dengan apik, dan Dede mengecat bagian awan dengan lincah.


Sore harinya, dinding kelas 4B berubah menjadi karya seni yang luar biasa. Saat teman-teman lain melihat, mereka semua kagum. Mural itu tidak hanya indah karena warnanya, tapi karena ada cerita tiga budaya yang bersatu di sana.


Tak kalah terkejutnya, Ms. Ratna sangat senang melihat karya anak didiknya.

“Woow…subhanallah…kalian semua luaar biasa…,” ujarnya sambil menang

"Ternyata," bisik Zahra sambil memandang karya mereka, "perbedaan itu kalau digabung bukan jadi berantakan, malah jadi makin cantik ya."[]